Tiga Karakter Pemilih

Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden telah berlalu, meskipun hingga saat ini masih banyak protes sana-sini terkait dengan hasil penghitungan suara. untuk Pileg yang telah difinalkan KPU pusat masih menuai banyak protes didaerah, hingga meja MK menjadi sorotan. Untuk Pilpres penghitungan manual KPU pusat masih berlangsung, namun demikian dari belbagai hasil survey baik Quick Qount maupun Exits Pool, pasangan SBY-Boediono menjadi kampiun Pilpres. Kalau hasil survey tepat maka pasangan SBY-Boediono mengalahkan pasangan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo dan menjadi pasangan Prsedien dan Wakil Presiden Periode 2009-2014.

Namun, belum usai perkara pemilu 2009 dihadapi bangsa Indonesia. Tangan jahil para teroris memainkan peranannya kembali, dua bom meledak di hotel JW Mariot dan Retz Carlton, seolah membuka lebar persoalan Pemilu yang beluam usai. Capres SBY yang masih menjabat sebagai presiden Ri memberikan komentar vulgar terkait aksi teror tersebut. Tudingan persoalan pemilu yang belum kelar menjadi kambing hitam teror tersebut. Apakah betul apa yang disangkakan presiden SBY dengan dalih berdasarkan data Inteligen (BIN Red) ? kita akan buktikan hasil investigasi lanjutan Polri dan lembaga terkait terhadap Bom Kuningan jilid II ini. Dan tentunya harapan kita, agar sentimen politik selama pemilu tidak lalu menciderai masyarakat Indonesia lebih dalam dengan aksi terorisme. Masyarakat Indonesia cinta kedamaian dan persatuan. Apapun hasil pemilu yang telah berlalu, biarlah menjadi pelajaran bagi kita semua untuk Pemilu ditahun-tahun berikutnya. Kalaupun ada persoalan hukum yang terjadi, biarlah kita serahkan kepada jalur hukum yang berlaku. Dan tentunya perangkat hukum dapat menjalankan fungsinya dengan profesional.

Baiklah, kita tinggalkan seabrek teror dan prasangkaan yang belum valid diatas. Saya hanya tertarik dengan mentalitas pemilih pada setiap perhelatan pesta demokrasi dinegara yang katanya mengagungkan Demokrasi ini. Menurut hemat saya, ada beberapa karakter pemilih yang sangat tanpak ketika pemilu berlangsung. Meskipun kemudian banyak faktor lainnya yang menyebabkan pemilih menjatuhkan pilihannya.

Pertama karakter pemilih Intelektual, karakter pemilih ini biasanya terdapat pada masyarakat perkotaan yang kecendrungan melek informasi dan ilmu pengetahuan lebih masif. Sehingga menjatuhkan pilihan berdasarkan faktor nilai-nilai yang dibawa calon yang akan dipilih. Untuk itu kematangan visi dan misi, janji-janji politik yang rasional, isu-isu kontemporer yang diangkat dapat menjadi nilai kuat untuk menjatuhkan pilihan. Persoalan asal daerah, karismatik personal, warna kulit, bentuk tubuh tidak menjadi ukuran pemilih intelektual. Yang panting bagaimana sang calon dapat benar-benar memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan rakyat sesuai dengan hati nurani. Karakter pemilih seperti inilah yang menjadi harapan dalam kehidupan berdemokrasi, sehingga benar-benar tercapai cita-cita perjuangan bangsa untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa, pemerataan kesejahteraan bagi rakyat dan tidak ada diskriminasi atas segala persoalan yang dihadapi masyarakat. Baik persoalan hukum, Pendidikan dan sosial budaya. Kenyataan di Indoensia karakter pemilih seperti ini sangat kecil, pemilu tahun 2009 hanya 5-10 persen saja karakter pemilih intelektual.

Kedua karakter pemilih emosional, ini adalah karakter pemilih yang mengedepankan persoalan emosi semata, sifatnya sangat pragmatis dan tidak terlalu dipusingkan dan mendukung nilai-nilai yang diperjuangkan calon yang akan dipilih. Yang penting calon bisa memberikan apa yang dibutuhkannya secara pragmatis. Seperti uang sogokkan untuk memilih, keikut sertaan dalam organisasi yang dibiaya calon, apalagi telah menjadi tim sukses calon tertentu. Bentuk tubuh dan pencitraan media menjadi pertimbangan penting juga untuk memilih. Untuk karakter pemilih emosional ini banyak terdapat di Indonesia, terutama dipedesaan dan masyarakat urban perkotaan. ungkapan "kapan lagi kita menikmati uang dari calon tertentu, kalau bukan saat kampanye inilah kita ambil uangnya kalau mau kita memilih dia. Kalau sudah jadi nanti pastilah lupa dengan kita." menjadi ungkapan hampir semua masyarakat dipedesaan dan pinggiran perkotaan, diwarung-warung kopi dan tempat hiburan rakyat lainnya. Tentu dengan demikian Demokrasi yang kita agungkan akan terciderai dan akan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik. Menurut saya ini adalah virus perusak demokrasi yang harus segera dituntaskan. Karena kita tidak akan menghasilkan wakil rakyat yang benar-benar berjuang untuk rakyat, tidak akan menhasilkan pemimpin yang benar-benar bersuara untuk rakyat. Yang ada wakil rakyat yang berjuang untuk kepentingan perut pribadi dan pemimpin yang bekerja ala mafia. Tebar sebanyak mungkin citra baik ditengah masyarakat diantara pekerjaan kotor yang telah dikerjakan, bila perlu tebar banyak uang untuk mempengaruhi pilihan rakyat.

Ketiga karakter pemilih konserfatif, karakter pemilih ini banyak terjadi didesa-desa dan bisa juga terjadi diperkotaan karena persamaan suku, daerah asal atau satu sekolah, satu tempat kerja, dll, yang sifatnya primordialisme. Ini adalah virus demokrasi yang kedua yang sangat akut menjangkit bangsa Indonesia, terutama ketika PIlkada, Pileg. Lagi-lagi nilai-nilai yang dibawak dan diperjuangan calon yang akan dipilih tidak menjadi ukuran untuk memilih.

Selanjutnya diantara derit demokrasi yang kita perjuangkan bersama untuk berjalan normal dijalurnya. Perlu ada penyadaran akan sikap masyarakat Indonesia ketika memilih calon wakil rakyat, calon pemimpin dilevel apapun. Jangan serahkan tanah air kita kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tidak memiliki kapabelitas, tidak memiliki leadership skill yang tepat untuk menjadi panutan bagi anak bangsa. Harapan kedepan hasil Pileg dan Pilpres 2009 menjadi pelajaran bagi kita semua bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang lebih bermartabat, maju dan menjamin setiap kehidupan setiap anak bangsa yang menaunginya.

Untuk Provinsi Bengkulu, Tahun 2010 merupakan tahun yang teramat penting, dalam rangka menentukan nasib Provinsi Bengkulu dipercaturan nasional. Akankah Bengkulu terlepas dari peringkat ke 3 Provinsi terkorup. Karena 2010 kita akan kembali memilih siapa pemimpin yang terbaik dan paling tepat bagi Provinsi Bengkulu. Yang akan membawa Provinsi Bengkulu kepada kehidupan yang lebih baik. Lima tahun telah berlalu, tentunya masyarakat dapat memberikan penilaian. Masyarakat Bengkulu dengan Intelektual memberikan nilai siapa yang cocok untuk memimpin Bengkulu. Tentu sebagai orang yang beriman kita tidak ingin terjerumus kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Skywave

Menulis Populer Yuk ?